*didit
masa kecil yang indah berlalu bersama
kenakalan-kenakalan kecil kita
di desa yang kini sesak tanda tanya
tak lagi semanis angka-angka bahagia
yang dulu kita pungut dan hitung
seakan-akan tiada mainan segembira itu
di dunia yang penuh teka-teki
dengan mimpi-mimpi kita ini
dunia masih penuh angka-angka dalam segala
dan kota-kota selalu punya tanda tanya
kita memang berbeda tapi tetap sama-sama
kita harus bermain lagi, sekarang
menang berarti berkarya
berharga bagi orang-orang kita
bukan lagi senang kita saja
menangkan hatimu, sayang…
coretan di dinding papan rumah dengan arang
kini menjadi puisi ini.
Pamulang, 21 Agustus 2007
Masih Jakarta
langit Jakarta masih membisu
menatap jalanan awan macet total
bising dan berkeringat
menyaksikan pasar-pasar becek kepanasan
didampingi hingar-bingar politik Indonesia
mengikuti carut-marut budaya Amerika-Eropa
lalu lupa
menyangsikan hujan tanpa banjir lagi.
Pamulang, 7 September 2007
Belum Punya Waktu Memberi Judul
*Mon-mon
mengejar tawa di pelataran senjamu
menorehkan senang yang mengiba
memohon goresan apa saja
dari lapangnya senyummu
mulianya cintamu
aku sendiri tertawa mengagungkan menghina
tersenyum bising di bandara luka
mengagumi obsesi hatimu berkibar untuknya
menyusul candamu masih kuingin
menjemput bahagiamu aku masih sangat mau
tapi kau tahu ; ada jurang menertawakanku
ada pingkal-pingkal setan menghinaku
juga ada senyum sinisku
meragu bimbang menghantui hari-hari
biarkan aku tenang,
atau tenangkan aku.
Ciputat, 21 Septenber 2007
Puisi Rindu
apa kabar keanggunan fitri ?
disini tanah basah menari resah
menceritakan hujan semalam
dan luapan rindu yang berjanji pada pagi
demi simfoni hari lebih berarti.
Palembang-Ciputat, 13-20 Oktober 2007
Ketika Cinta Diam Cepat – Cepat Diam
*Mon-mon
Senin, 29 Oktober 2007
hujan ini menjelaskan sesuatau tentang dirimu, dengan sinis
rintik-rintiknya
sambil menangisi lunturnya tinta yang sempat dilukiskan
hatiku untukmu
tersedu-sedu bicara tentang indahnya yang tak mungkin lagi
berkata-kata
kita pun lari terburu-buru meninggalkannya
tanpa lagi peduli
“entahlah dan biarlah…!” hujan kemudian putus asa
@@@@#############@@@@
Jum’at, 26 Oktober 2007
kali ini rindu beterbangan bersama segumpal benci
debu-debu jalanan mengamini pekat pintanya, tapi
tak lupa bermain ;
gelandangan dan pengemis berkejaran dengan kerasnya kehidupan
pengamen kecil mengejar angkot sambil mengeja satu per satu
naskah masa depannya lalu bernyanyi
untuk sejumlah uang
semua senang mendendangkan kartu-kartu kehidupan
mengacuhkan kepastian, daripada memusingkan
kemacetan
lebih baik berjudi waktu, “ceki !” sebentar lagi
rinduku tersumbat tersumpal benci
eh, Jakarta malah bermain poker !
@@@@#############@@@@
Kamis, 25 Oktober 2007
keadaan mulai memburuk ketika bersama
lamat-lamat memijarkan antipati
daun-daun pepohonan pagi menjadi sangat komersil
hanya untuk sebuah mengerti
matahari terlalu panas dan tak bisa menerima
anginmu lalu pucat pasi
tak ada lagi lagu
tak ada lagi bujuk rayu.
Merindumu (1)
Aku merindumu mengiringi simfoni hari-hari
mengitari cahaya raya
seperti laron-laron berdeklamasi mati
Biar lelah memapah raga ; berarah
karena peluh jiwa berpeluh asa
melumat-larutkan keluh menumbuk resah
menyiangi serbuk mabuk belaka
Aku merindumu mendaki mimpi-mimpi
menyaksikan drama semesta
mengais hikmah-hikmah di selimut fana
yang mengumandangkan sabda suci
di pelaminan ruang dan waktu
menunggu
Merindumu (2)
ada daundaun merinding
menggelinjang tergesa-gesa di kepala
ada melodi mengadu
pada hening yang melambai layu
lalu tiba asa yang iba
tertatih-tatih merintihkan pilu
ada pula binarbinar embun pagi
butirbutir waktu datang dan pergi
adapun aku merindumu
Merindumu (3)
semata sepi menyingsing hati
meraba malam tersungging
irama kelam, bernyanyi
isapan sunyi sebatang rindu
hanya sendiri merundung imaji
menarikan jumpa tersandung
isapan sunyi. berkali-kali
sebatang rindu pucat pasi
tapi rindu lagi
rindu lagi
Kos-an Ichan, 13 November 2007