29.12.07

Parodi Cinta Zaman Sekarang



ranjang yang angkuh adalah mimpi kosong para pencinta

yang berharap mendapatkannya bertabur hati pujaannya

lalu frustasi menjadi prestasi

yang diagungkan manusia sepanjang masa, nyata

dihidupkan tanpa gas air mata tapi ditangisi

sekaligus digemari

orang-orang sebagai tontonan

tapi tidak harapkan

menjatuhi diri

seperti durian runtuh

bukanlah rejeki kalau menimpa kepala

gila

sakit

tak bisakah disembuhkan? tak adakah

obatnya?

sementara ranjang para penonton bersimbah birahi

setelah saksikan

setelah lewati sendiri kekecewaan

atau kepuasan dunia pacaran

ada kesetiaan, ada gonta-ganti pasangan

matikah tokoh utama dengan cinta sejatinya ?

yang pasti dia juga bosan happy ending ala senetron

membanjiri kepala-kepala tertawa

tergenang kisah Cinderella dan Betty Laffea

seakan-akan dunia ini tanpa janda

dan duda menyeringai aduhai di lokalisasi

malam, Jakarta tawarkan racun Juliet. Romeo

tak tau, tak sabar lagi

mati saja cinta

hiduplah industri kelamin

berdetak keras jam dinding hedonisme

berderap

ajep-ajep

dalam keranjang sampah nuranimu

cinta selalu dipertanyakan

sukar ditemukan

susah didapatkan


Arjuna berkeras poligami

dimarahi emansipasi

Sembadra ingin cinta yang pasti

dan Srikandi memaki-maki


Shinta mulai silau pesona Rahwana

Rama menolak pengagumnya yang sebenarnya tak kalah

cantik

headline kasih yang tersisih

tajuk rencana bergelora bersuara

membela rasa. Dan

opini mewacana kecelakaan sepasang remaja


lalu apa hubungannya? (aku nyengir saja).


Tora Sudiro bersendawa setelah extravaganza

Tukul yang setia menjadi komedi

arwana semakin mahal dan langka

begitu pula cinta


ini hanya sajak yang patah hati

biarkan ia menari

dalam hati-hati


Pamulang, 12 Desember 2007-12-12

in memoriam Al Hazra Rahmana

kali ini aku merokok seorang diri. dihadapanku secangkir kopi yamg tentu saja akan memecah tawamu jika kau disini, menemaniku. kita pernah begitu senang bahagia, lepas tertawa. kita juga pernah begitu lelah dan marah, terluka. lengkap sudah persahabatan yang singkat, menghujamkan kenangan indah dalam-dalam. kawan… mengingatmu aku tersedu.

“namaku Alhazra Rahmana” lantang suara itu
mengiang “panggil saja Aray!” berderai

di dinding kos-an, di dinding perasaan, kau lukiskan
nama dan kenangan
jalanan kehidupan panjang nian
kau sempurnakan duluan

apa yang kau pikirkan ketika diam?
ketika tanganmu menggenggam dingin
Puncak
persahabatan
nyanyian
canda tawa
tragedi
jeritan
kesedihan
lalu melambai misteri
sampai sebuah nisan



12.12.07

Ketulusan Hati



bertahanlah seperti bayang-bayang yang setia

pada gelap, pada terang

bersembahyang


melangkahlah sepasti matahari yang tenang

menyinari dan tenggelam

dengan riang


berjalanlah, sayang...

seperti lantunan kaki anak gembala

pada savana, pada domba-domba

bergembira


kemanapun arahmu

bahagiaku untukmu


seperti bayang-bayang untuk matahari

maka tersenyumlah, sayang...

seperti aku yang bermain dengan bayangmu

seperti matahari ini

seperti anak gembala yang bernyanyi

pada semesta cinta

Pamulang, 12 Desember 2007

4.12.07

Puisi Arang

*didit

masa kecil yang indah berlalu bersama
kenakalan-kenakalan kecil kita
di desa yang kini sesak tanda tanya
tak lagi semanis angka-angka bahagia
yang dulu kita pungut dan hitung
seakan-akan tiada mainan segembira itu
di dunia yang penuh teka-teki
dengan mimpi-mimpi kita ini

dunia masih penuh angka-angka dalam segala
dan kota-kota selalu punya tanda tanya
kita memang berbeda tapi tetap sama-sama
kita harus bermain lagi, sekarang
menang berarti berkarya
berharga bagi orang-orang kita
bukan lagi senang kita saja

menangkan hatimu, sayang…
coretan di dinding papan rumah dengan arang
kini menjadi puisi ini.

Pamulang, 21 Agustus 2007

Masih Jakarta


langit Jakarta masih membisu
menatap jalanan awan macet total
bising dan berkeringat
menyaksikan pasar-pasar becek kepanasan
didampingi hingar-bingar politik Indonesia
mengikuti carut-marut budaya Amerika-Eropa
lalu lupa
menyangsikan hujan tanpa banjir lagi.

Pamulang, 7 September 2007

Belum Punya Waktu Memberi Judul
*Mon-mon

mengejar tawa di pelataran senjamu
menorehkan senang yang mengiba
memohon goresan apa saja
dari lapangnya senyummu
mulianya cintamu

aku sendiri tertawa mengagungkan menghina
tersenyum bising di bandara luka
mengagumi obsesi hatimu berkibar untuknya

menyusul candamu masih kuingin
menjemput bahagiamu aku masih sangat mau
tapi kau tahu ; ada jurang menertawakanku
ada pingkal-pingkal setan menghinaku
juga ada senyum sinisku
meragu bimbang menghantui hari-hari

biarkan aku tenang,
atau tenangkan aku.

Ciputat, 21 Septenber 2007

Puisi Rindu


apa kabar keanggunan fitri ?
disini tanah basah menari resah
menceritakan hujan semalam
dan luapan rindu yang berjanji pada pagi
demi simfoni hari lebih berarti.

Palembang-Ciputat, 13-20 Oktober 2007




Ketika Cinta Diam Cepat – Cepat Diam
*Mon-mon

Senin, 29 Oktober 2007

hujan ini menjelaskan sesuatau tentang dirimu, dengan sinis
rintik-rintiknya
sambil menangisi lunturnya tinta yang sempat dilukiskan
hatiku untukmu
tersedu-sedu bicara tentang indahnya yang tak mungkin lagi
berkata-kata
kita pun lari terburu-buru meninggalkannya
tanpa lagi peduli
“entahlah dan biarlah…!” hujan kemudian putus asa

@@@@#############@@@@

Jum’at, 26 Oktober 2007

kali ini rindu beterbangan bersama segumpal benci
debu-debu jalanan mengamini pekat pintanya, tapi
tak lupa bermain ;
gelandangan dan pengemis berkejaran dengan kerasnya kehidupan
pengamen kecil mengejar angkot sambil mengeja satu per satu
naskah masa depannya lalu bernyanyi
untuk sejumlah uang
semua senang mendendangkan kartu-kartu kehidupan
mengacuhkan kepastian, daripada memusingkan
kemacetan
lebih baik berjudi waktu, “ceki !” sebentar lagi
rinduku tersumbat tersumpal benci
eh, Jakarta malah bermain poker !

@@@@#############@@@@



Kamis, 25 Oktober 2007

keadaan mulai memburuk ketika bersama
lamat-lamat memijarkan antipati
daun-daun pepohonan pagi menjadi sangat komersil
hanya untuk sebuah mengerti
matahari terlalu panas dan tak bisa menerima
anginmu lalu pucat pasi
tak ada lagi lagu
tak ada lagi bujuk rayu.

Merindumu (1)

Aku merindumu mengiringi simfoni hari-hari
mengitari cahaya raya
seperti laron-laron berdeklamasi mati

Biar lelah memapah raga ; berarah
karena peluh jiwa berpeluh asa
melumat-larutkan keluh menumbuk resah
menyiangi serbuk mabuk belaka

Aku merindumu mendaki mimpi-mimpi
menyaksikan drama semesta
mengais hikmah-hikmah di selimut fana
yang mengumandangkan sabda suci
di pelaminan ruang dan waktu
menunggu

Merindumu (2)



ada daundaun merinding
menggelinjang tergesa-gesa di kepala

ada melodi mengadu
pada hening yang melambai layu

lalu tiba asa yang iba
tertatih-tatih merintihkan pilu

ada pula binarbinar embun pagi
butirbutir waktu datang dan pergi

adapun aku merindumu

Merindumu (3)



semata sepi menyingsing hati
meraba malam tersungging
irama kelam, bernyanyi

isapan sunyi sebatang rindu

hanya sendiri merundung imaji
menarikan jumpa tersandung
isapan sunyi. berkali-kali
sebatang rindu pucat pasi

tapi rindu lagi
rindu lagi

Kos-an Ichan, 13 November 2007