15.2.10

Century Riwayatmu Kini

Drama politik Century semakin mencengangkan. Lakon-lakonnya semakin keranjingan sorotan dan peran. Sementara rakyat dibuatnya terus penasaran sekaligus bimbang. Kisruh elit negeri ini semakin memperkeruh keadaan. Perang kepentingan yang bisa jadi mempertaruhkan masa depan bangsa. Alur kebenaran di persimpangan jalan.

Selama sebulan lebih, masyarakat disuguhi episode-episode kinerja Pansus yang mengharu-biru. Segala macam kemanusiaan, kebinatangan bahkan kesetanan tumpah-ruah disana. Semuanya dipertontonkan ke hadapan publik secara telanjang.

Sejak awal terbentuk, Pansus ini dikhawatirkan akan digembosi alias masuk angin. Karena terus-menerus diwanti-wanti masyarakat, pengamat dan media, Pansus pun terus berjalan. Perkembangannya pun cukup baik, meskipun banyak hal tak terduga dan tidak diharapkan. Mulai dari kontroversi polah para anggotanya yang tidak wajar apalagi pantas, hingga yang terakhir isu reshuffle.

Bola politik pun terus bergulir. Terakhir, para anggota Pansus menjalani roadshow ke beberapa kota guna menelusuri jejak aliran dana yang belum juga jelas kemana saja juntrungannya itu. Kita semua berharap, kasus ini segera tuntas dan terang seperti yang diharapkan (baik oleh mereka yang bicara dari nurani maupun mereka yang sekadar bertanam tebu di lidah).

Beberapa catatan

Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan bersama. Pertama, prilaku Pansus di ruang sidang. Lepas dari kontoversi pernyataan Presiden yang meminta para anggota dewan yang terhormat untuk menjaga etika, -karena disinyalir sementara pihak sebagai upaya pengalihan persepsi- sudah seharusnya anggota dewan menjaga kehormatan dan kewibawaan lembaga yang didudukinya. Menjaga kehormatan ini, lebih dari sekadar untuk politik pencitraan belaka, melainkan menjaga kualitas demokrasi kita. Dengan tingkah elit di pansus, demokrasi kita mulai terjebak dalam pembicaraan dan perdebatan yang seringkali tidak perlu. Jauh dari substansi yang mencerdaskan, apalagi mencerahkan. Lebih sering membingungkan serta mencemaskan masyarakat.

Para anggota Pansus bisa saja berdalih bahwa tindakan mereka demi investigasi, namun investigasi yang disaksikan publik sebenarnya sudah tidak memerlukan gaya galak-menyalak ala polisi di ruang tahanan, cukuplah dengan gaya wartawan yang beradab dan sopan. Toh, jawaban yang diberikan pada wartawan selalu dipertanggungjawabkan sendiri oleh si penjawab di muka umum. Lagipula dengan apa para anggota pansus dapat menjelaskan tragedi ‘bangsat’ dan ‘setan’ di gedung DPR? Selain dengan permintaan maaf. Belum lagi sensasi-sensasi lain.

Kedua, selebritisasi elit yang berlebihan di televisi. Kecenderungan tingkah-laku di senayan yang semau gue, mau tak mau pada akhirnya berimbas pada narsisisme di hadapan media. Didorong semangat klarifikasi, demi mempertahankan reputasi, dan memenuhi hasrat eksistensi, ruang publik di televisi kemudian diperebutkan. Tontonan yang demikian sangat jauh dari substansi, tak ubahnya reality show baru yang kian banyak digandrungi. Demokrasi yang semestinya dibangun dari kekuatan wacana, pengetahuan dan kebajikan demi kemajuan bangsa direduksi menjadi semacam debat kusir dan kampungan. Sungguh mengenaskan. Dan ketiga, Wacana reshuffle yang cukup heboh. Wacana yang pertama kali digelontorkan oleh kader partai berkuasa.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa di DPR terdapat tawar-menawar kekuasaan karena memang lembaga politik. Namun demikian, timbang-menimbang jabatan seyogyanya tidak sampai menutupi menutupi kebenaran di alam Century. Meskipun berbusa-busa kader partai berkuasa menegaskan bahwa reshuffle merupakan hak prerogatif Presiden, publik cukup cerdas untuk menangkap bahwa isu tersebut berkaitan erat dengan kasus Century.

Kasus Century sebentar lagi akan sampai pada titik kulminasinya. Catatan-catatan di atas, semoga dapat dijadikan modal bagi demokrasi kita yang lebih matang. Demokrasi yang jauh lebih berkualitas dan berkeadaban. Dan kita semua masih menaruh tinggi harapan di pundak Pansus. Semoga kinerja Pansus tetap di rel pengungkapan kebenaran di kasus ini. Kebenaran tetap pada orbitnya, tidak dibelokkan oleh telikung transaksi politik.

0 komentar:

Poskan Komentar