Hari ini kau peringati hari jadimu, hari dimana kau goncangkan kebahagiaan dengan gelegar tangis sedihmu yang ayu di hati duniamu. Engkau menjadi wahai pelita hati, sementara sejak sebelum itu aku sudah menanti hadirmu.
Kemudian kita meniti hari-hari masing-masing, mendulang hidup pada tambang kehidupan. Kita lalui jutaan barisan suka-duka, dengan beraneka ragam aroma dan warna, bermacam-macam rasa dan nuansa, serta segala suasana silih berganti. Sementara aku terus menunggumu.
Sampai engkau menjulang gemilang dan aku dapat memandangmu berhiaskan jajaran bintang. Begitu lama kau kutunggu-tunggu, kunanti-nantikan. Aku seperti menemu sesuatu yang hilang, aku menemukanmu. Pertemuan yang diharap-harapkan nian oleh seluruh jiwa-raga, segala-gala bentuk yang ada dan semua-mua makna dan warna. Karena bila tanpamu, wujudku tak utuh, bentukku tak lengkap, tak sempurna warnaku dan tak berarti maknaku. Kaulah tunjangan rasa dan tumpuan cinta.
Berbahagia rayalah, karena itu kebahagiaan semestaku. Luapkanlah laut suka-citamu, karena itu samudera doaku. Biar kita tenggelam dalam jagad cinta ini. Tuntaskan ukiran kehidupan itu bersamaku. Sampai menyatu dan bersatu. Selalu.
2005.
Hari ini kuucapkan kembali selamat ulang tahun, tanpa usaha menjadikannya puisi. Hari ini kuucapkan selamat ulang tahun lagi, seperti 6 tahun yang lalu dengan sidikit perbedaan saja. Ya, perbedaan itu hanya pada kata ‘bersamaku’ dan kalimat yang mengikutinya di paragraf akhir, yang demi ‘harmoni bima sakti’ harus dihapus.
Tapi percayalah, aku ingin kamu selalu bahagia. Dimana pun, kapan pun, bersama siapa pun. Adakah yang lebih puitis dari kejujuran ini? Selamat ulang tahun.

Hmmmm.......
BalasHapussiapa siiih?
BalasHapus