22.11.13

Noah dan Puthut EA

"Kenapa sih Bana harus malu kalau memang mengidolakan Noah dan Ariel? Apa salah?" begitu kicauan Puthut EA di twitter. 


Sebentar. Saya singsingkan lengan baju terlebih dahulu sebelum kita bicara panjang lebar perkara darurat dunia- akhirat ini.

Saya tahu, 90 persen orang yang menggunakan Bahasa Indonesia tahu siapa itu Ariel dan apa itu Noah. Sebagaimana mereka tahu siapa Jokowi.

Saya juga maklum, barangkali tak sampai 5 persen dari fans Ariel yang tahu siapa gerangan Puthut EA. Tapi percayalah, yang tak sampai 5 persen itu adalah orang-orang beruntung, manusia-manusia terpilih. Oh, tentu saja saya tak perlu memperkenalkan Puthut EA di laman ini. Anda tahu fungsi google, bukan?

Saran saya, setelah google memberi rute perjalanan untuk mengenali Mas Puthut—begitu saya memanggilnya, telusurilah karya-karya yang pernah ditorehkannya. Baiklah, tak perlu basa-basi, maksud saya belilah buku- bukunya. (Mas Puthut menyuap saya dengan dua tiket menonton film dan makan malam gratis agar menuliskan ini)

Enaknya bicara Mas Puthut dulu atau Ariel dulu? Oke, saya bisa tebak jawaban di otakmu.

Jadi, pertama-tama saya mengenalnya sebagai cerpenis. Saya ingat dulu waktu semester satu saya pernah membeli kumpulan cerpennya, Dua Tangisan pada Satu Malam. Malang nian, buku itu raib sebelum saya sempat menyelesaikannya. Barangkali kurang jodoh.

Setelah itu, saya justeru semakin rajin sembarangan menggondol setiap bukunya yang ada di depan mata. Entah itu di toko buku atau perpustakaan. Entah di pondokan teman. Persetan. Saya keranjingan membaca Puthut EA. Sementara di pasaran memang semakin jarang. Dan karena banyak hal, yang terlalu panjang untuk diungkapkan di sini, saya menggemari Mas Puthut. Maka saya jauh lebih bahagia berjumpa dengannya ketimbang Ariel. (Saya menuliskan ini dengan harapan ditraktir ngopi-ngopi ganteng)

Saya bisa lupa bait lagu Peterpan, tapi saya selalu ingat ungkapan Mas Puthut: “Kamu harus belajar dari sejarah dan kenyataan, sejarah bangsa ini kan sejarah para makelar. Dan kenyataannya, makelar itu ada di mana-mana,” di buku Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar. Baris itu padahal tidak dilagukan, tapi sangat sering terngiang-ngiang di kepala saya. Atau tentang betapa garis kerasnya ia sebagai seorang Romanisti: jika nanti anaknya mendukung klub selain AS Roma, ia akan persilakan anaknya mencari bapak lain selain dirinya. Anaknya boleh punya agama, keyakinan, pandangan dan ideologi politik yang berbeda dengannya, tapi tidak untuk klub sepakbola. Ngeri-ngeri sedap.

Itulah, saya sangat terperanjat ketika seminggu yang lalu Mas Puthut mengajak saya nonton film Noah Awal Semula. Dedik Priyanto, yang duduk di sebelahnya, tertawa tanpa jeda tanpa alasan yang jelas. Siapa itu Priyanto? Tidak terlalu penting. Sejujurnya saya malas nonton film itu, baru sehari sebelumnya saya membeli Kisah Lainnya di bazar buku Bintaro Plaza. Lagipula, tak ada yang saya harapkan dari film itu. Saya tak perlu lagi sebuah dokumenter untuk mengetahui perjalanan band dengan Mimpi yang Sempurna itu.

Ya, saya seorang sahabat Peterpan sejak dari pikiran, Sahabat Noah dari buaian hingga liang lahat. Banyak orang di lingkungan saya yang merendahkan pilihan ini. Apa boleh buat. Paling tidak, saya masuk golongan yang kurang dari 5 persen yang malahan lebih beruntung lagi hingga ditraktir Puthut EA—seorang Dewa Laut yang dengan rendah hati masih mengaku sebagai Detektif Partikelir. Perihal dua julukan barusan, Anda hanya bisa paham jika telah melahap semua buku Mas Puthut. Makanya Anda harus memborong semua bukunya. Tidak boleh tidak.

Nah, lantaran enggan Noah, saya masih coba merayu Mas Puthut untuk menonton film lain saja. Misalnya Thor, dimana mantan kekasih saya Natalie Portman ikut ambil bagian. Tapi Mas Puthut bersikukuh mau nonton Noah saja. Sampai-sampai saya curiga kalau-kalau ia juga seorang fans Ariel dkk.

“Udahlah, anggap aja ini hadiah buat kamu,” katanya.

Priyanto semakin menjadi-jadi, terpingkal-pingkal tanpa alur berpikir yang runtut. Priyanto ini siapa sih? Nggak penting-penting amat sebenarnya, sebut saja lelaki yang mendermakan dirinya demi digulung badai kenangan.

Usaha saya memutar haluan untuk film lain akhirnya tak membuahkan hasil. Di depan antrean bioskop, diam-diam saya berani menyimpulkan bahwa Mas Puthut juga seorang Sahabat Noah. Lebih-lebih, ia tampak sumringah setelah pertunjukkan usai. Pertanyaannya sekarang… Bagaimana apresiasi saya terhadap Noah? Baca saja Majalah Surah edisi Oktober-November, disitu saya banyak menulis tentang album-album mereka.

Dan pertanyaan terakhir yang paling penting: benarkah seorang Puthut EA mengidolakan Noah dan Ariel? Apa salah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar