31.1.17

CAMILO


desain: john brownjohn
"Aku Camilo!" teriaknya dari pintu gerbang, melebarkan kedua tangannya kepadaku, seolah kami saling kenal. "Anakbaptis ayahmu." Kedatangannya tampak sangat mencurigakan bagiku, seperti tanda bahaya, dan umurku sembilan tahun ketika itu, cukup besar untuk tidak jatuh dalam perangkap keakraban demikian. Kacamata hitam itu, seperti milik orang buta, di hari yang berawan. Dan jaket jin itu, dijahiti emblem dengan nama-nama band rock. "Ayah sedang tidak di sini," kataku, menutup pintu, dan aku bahkan tidak memberi tahu ayah tentangnya; aku lupa.

Tapi benar ternyata: ayahku kawan dekat ayah Camilo, Pak Camilo—mereka bermain bola bersama di klub Renca. Kami juga punya foto-foto pembaptisan, si bayi menangis dan seorang dewasa dengan khidmat menatap kamera. Semuanya baik-baik saja selama beberapa tahun—ayah adalah bapakbaptis yang baik, dan ia menaruh perhatian penuh untuk anakbaptisnya—tapi kemudian ayah dan Pak Camilo bertengkar dan, beberapa bulan setelah peristiwa kudeta, Pak Camilo dipenjara, dan setelah dibebaskan ia menjadi eksil. Rencana Pak Camilo, Juli istrinya menyusul ke Paris memboyong Camilo Kecil, tapi Juli tak mau, dan pernikahan mereka akhirnya bubar. Maka Camilo Kecil tumbuh tanpa ayah, menunggu kepulangan ayahnya, menabung agar suatu saat bisa mengunjunginya. Dan suatu hari, setelah berusia delapan belas, ia menginsafi jika belum bisa bertemu ayahnya setidaknya ia bisa menemui bapakbaptisnya.

Aku tahu semua cerita di atas saat pertama kali Camilo bersantai sore minum teh bersama kami, atau mungkin aku mengetahuinya secara bertahap. Aku perlu jelaskan di sini, aku agak linglung. Tapi aku ingat bagaimana terpananya ayah sore itu ketika ia melihat betapa mirip anakbaptisnya dengan kawan lamanya. "Kamu persis ayahmu," kata ayah, yang belum tentu berarti pujian, karena wajahnya biasa-biasa saja, tidak menarik, dan meski Camilo memakai banyak produk untuk menata rambut kakunya agar terlihat keren, itu cenderung lebih merusak untuknya.

Berkebalikan dari ketidakpercayaan awalku, Camilo segera menjadi kakak sesungguhnya bagiku, ia begitu perhatian dan selalu melindungiku, benar-benar baik. Ketika ia berangkat ke Perancis untuk memenuhi impian seumur hidupnya, itulah yang kupikirkan: yang pergi itu kakakku. Januari 1991; aku ingat pasti.

*

Aku bukan satu-satunya orang yang terpesona oleh Camilo. Kakak perempuanku malah sangat tergila-gila, dan adik perempuanku, yang biasanya tidak bisa memperhatikan sesuatu lebih dari dua detik, selalu memandanginya penuh perhatian ketika ia datang berkunjung, meramaikan semua lelucon yang dibuatnya. Belum lagi ibuku, yang bukan saja teman bercandanya melainkan juga teman curhatnya, karena waktu itu Camilo sedangan mengalami—menurut istilah Camilo sendiri—keresahan beragama, dan meski ibu bukan orang yang taat, ibu gumun sekali mendengar gagasan bahwa orang bisa menyangkal keberadaan Tuhan hingga ibu akan duduk tenang dan terkagum-kagum mendengarkan Camilo.

Adapun ayah, kupikir, Camilo baginya lebih seperti teman atau sobat daripada anakbaptis; ia bahkan membiarkan Camilo bicara dengannya dengan "kamu" yang informal. Mereka suka duduk-duduk sampai larut malam di ruang tamu, ngobrol segalam macam—kecuali eksistensi Tuhan, karena ayah tidak mungkin bisa terima hal itu dipertanyakan, atau tentang sepak bola, karena Camilo adalah orang pertama yang tidak suka sepak bola yang kutemui. Ia bahkan tidak paham aturan-aturan bola. Sekali-sekalinya ia bermain bola di San Miguel, saat usianya lima tahun: Satu-satunya sumber pengetahuannya tentang permainan itu adalah cuplikan gol-gol yang ia tonton di televisi, maka sepanjang sore itu yang ia lakukan adalah berlari ke sana ke mari, bersorak merayakan gol yang tidak pernah ada dan dengan riang-gembira melambai ke arah kerumunan, ia sama sekali tak tertarik pada bola.

*

Hubunganku dengan ayah, bagaimanapun, terkait erat dengan sepakbola. Kami menonton atau mendengarkan pertandingan, kadang ke stadion, dan setiap hari Minggu, di siang hari, aku ikut ayah ke lapangan di La Farfana, di mana ayah bermain sebagai kiper. Ayah kiper yang hebat—Aku ingat ayah melayang di udara, meraih bola dengan dua tangan lalu mencengkeramkannya di dada. Namun, aku selalu curiga rekan-rekan setimnya pasti benci ayah, karena ayah adalah jenis kiper yang menghabiskan seluruh pertandingan dengan menggonggongkan perintah, menyuruh-nyuruh bek dan bahkan gelandang, semua dengan pekikan terkerasnya. "Oper balik, Coy, oper balik! Sini! Oper balik, Coy, oper balik!" Sering sekali aku mendengar ayah teriak begitu dengan nada alarm yang paling mengganggu. Seruannya kepadaku—kalau pernah—tidak pernah sekeras pekikan yang membuat rekan-rekan setimnya jengkel, atau setidaknya begitulah asumsiku, karena bermain dengan keberisikan nonstop di belakangmu tentu tidak menyenangkan. Tapi ayah dihormati, ayahku. Dan kukatakan lagi, ayah benar-benar hebat. Aku betah di belakang gawang ditemani Bilz atau Chocolito, dan sesekali ayah akan melirik ke arahku untuk memastikan aku masih di sana, dan lain kali ia akan bertanya, tanpa menoleh, apa yang terjadi, sebab itulah masalah utama ayah sebagai kiper: itulah alasan mengapa ayah tak pernah bisa menjadi pemain bola profesional—miopianya begitu parah sehingga hanya bisa melihat sejauh lini tengah. Namun refleksnya luar biasa, begitu pula kenekatannya, yang harus ayah bayar dengan dua patah tulang di tangan kanan dan satu di kiri.

Selama istirahat babak pertama aku suka pergi ke titik kiper berdiri, dan selalu memikirkan betapa besarnya gawang itu. Aku bertanya-tanya bagaimana mungkin orang bisa menahan tendangan penalti. Ayah jago menahan penalti—tentu saja. Satu banding tiga atau empat: ayah tidak pernah melayang lebih dulu; ayah selalu menunggu, dan ayah bisa mementahkan kalau eksekusinya kurang bagus.

*

Aku ingat perjalanan kami ke kampung, ketika Camilo mendapatiku berkedip di antara bangjo. Sampai sekarang pun aku masih melakukannya, bahkan ketika mengemudi; Aku tak bisa tahan. Segera setelah berada di jalan raya, aku mulai berkedip dengan hati-hati, sebisa mungkin tepat di tengah pergantian lampu. Hari itu, kami ramai-ramai di kursi belakang Chevette orangtuaku, bersama kakakku, dan Camilo menyadari keteganganku, berkonsentrasi, kemudian ikut berkedip di saat yang sama denganku, dan tersenyum kepadaku. Aku waswas sekali, karena aku tak ingin membuat kesalahan; aku sungguh-sungguh percaya hanya jika aku berkedip tepat di antara pergantian bangjo kami semua akan selamat.

Kebiasaan gugupku itu tidak terlalu menggangguku lagi sekarang, tapi di masa kecilku kebiasaan itu membuatku begitu cemas bahkan hingga kegiatan yang paling sederhana pun menjadi sangat pelik. Kukira aku terkena OCD. Seperti anak-anak O.C.D lain, aku begitu hati-hati menghindari retakan trotoar. Jika tanpa sengaja aku menginjak salah satu retakan itu, aku akan sangat putus asa tiada terkira—dan aku tahu, dalam derjat tertentu, itu semua terlalu konyol untuk dibicarakan. Aku juga punya obsesi menyeimbangkan bagian-bagian tubuhku: jika satu kaki sakit, aku akan memukul kaki yang lain biar impas. Kadang-kadang aku menggerakkan bahu kananku mengikuti irama detak jantung, seolah-olah aku punya dua hati. Aku juga punya beberapa rutinitas acak, misalnya naik-turun tangga curam yang mengarah dari kolam ke taman sebanyak sembilan kali. Ini tidak aneh benar—bisa jadi semacam permainan—tapi aku berhasil memastikan agar tidak terlihat aneh dengan sangat hati-hati menyarukannya: aku akan berhenti di tangga paling bawah, menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan lupa sesuatu, kemudian berbalik arah dan menelusuri langkah-langkahku kembali.

Aku ceritakan semua ini karena Camilo yang selalu bersedia membantuku. Di Chevette waktu itu, ketika ia mengetahui kegugupanku, ia mengusap-usap rambutku dan mengatakan sesuatu yang tidak kuingat, tapi aku yakin itu menghangatkan, penuh perhatian, dan lembut. Beberapa waktu kemudian, ketika aku bercerita tentang keanehanku, ia berkata bahwa setiap orang memang berbeda, dan mungkin hal-hal aneh yang kulakukan itu sebenarnya normal, atau mungkin tidak, bukan masalah, karena orang normal itu payah.

*

Aku bisa mengisi banyak halaman menuliskan pentingnya Camilo dalam hidupku. Untuk saat ini, aku ingat bahwa Camilolah, setelah melalui perdebatan panjang dan canggih, yang berhasil memintakan izinku untuk menonton konser pertama kali. (Kami nonton Aparato Raro di Sekolah Don Orione di Cerrillos.) Ia juga orang pertama yang membaca puisiku.

Sejak masih kecil aku menulis puisi, yang, tentu saja, merupakan rahasia memalukan. Puisi-puisi itu jelek, tapi waktu itu kupikir bagus, dan waktu Camilo membacanya ia melakukannya dengan takzim, meski segera menjelaskan bahwa hari-hari ini puisi tidak berima. Itu kabar baru bagiku. Belum pernah kubaca puisi tak berima sebelumnya, dan aku selalu berpikir bahwa puisi adalah sesuatu yang tidak berubah: purba dan kekal. Tapi aku senang mendengar penuturan Camilo, karena ada saat-saat aku setengah mati mencari rima, dan aku tahu aku tidak bisa terus-menerus menggunakan kombinasi mudah.

Aku bertanya kepadanya, kemudian, apa perbedaan puisi dan prosa. Kami berbaring di samping kolam renang—dalam mode fotosintesis, katanya. Ia menatapku dengan ekspresi pedagogis dan memberitahuku puisi adalah kebalikan dari cerita. "Prosa itu membosankan. Puisi itu keedanan, puisi itu liar, puisi itu aliran deras emosi ekstrem," katanya, atau begitula kira-kira. Sulit untuk tidak membayangkan, tidak terbawa aroma kenangan. Ia niscaya menggunakan kata "keedanan", "liar," dan "emosi." "Aliran deras," mungkin tidak. "Ekstrem," kupikir iya.

Pulang ke rumah, diambilnya buku catatanku dan mulai menulis puisinya sendiri. Ia butuh waktu kira-kira setengah jam untuk menulis sepuluh atau dua belas teks panjang, lalu membacakannya. Aku tidak mengerti apa-apa; kutanya apakah orang lain akan mengerti puisinya. Mungkin orang-orang tak akan paham, katanya, tapi itu bukan hal penting. Kutanya apakah ia ingin menerbitkan buku. Ia bilang ya, pasti, tapi itu juga bukan hal penting. Kutanya apa yang penting. Dan ia katakan ini, atau ini yang aku pahami: "Yang penting ungkapkan perasaanmu, tidak takut menampakkan diri sebagai pria yang menarik, asyik, dan barangkali sedikit rapuh, menerima sisi feminin dalam diri." Itulah pertama kali aku mendengar ungkapan "sisi feminin".

Lain hari, tidak lama setelah itu, ia bertanya apakah aku menyukai laki-laki atau perempuan. Aku agak ragu, karena ada laki-laki yang kusukai—Camilo sendiri, misalnya—tapi aku cukup yakin aku lebih suka cewek, jauh. "Aku suka cewek," kataku. "Aku suka banget cewek-cewek. Kupikir mereka seksi."

"Oke," ujarnya, serius sekali, lalu ia bilang jika aku suka cowok juga oke—ini terjadi beberapa kali.

*

Aku ingat Camilo sore itu, berdiri di jembatan melengkung di Providencia, merokok. Aku tahu itu bukan rokok biasa, tapi aku tidak tahu persis apa. "Ini terlalu keras buat bocah kecil," katanya berapologi ketika aku minta join, saat itu aku sudah mulai merokok, sesekali. Ini mesti 1986 atau awal 1987; Aku berusia sepuluh tahun atau sebelas. Aku tahu karena pada usia tersebut aku masih belum hafal jalan sekitar Providencia atau pusat kota Santiago, dan karena hari itu kami pergi membeli True Stories-nya Talking Heads, yang waktu itu masih album baru.

"Kita harus bereskan masalahmu," kata Camilo pagi itu dalam perjalanan kami ke halte bus. Kutanya masalah yang mana, karena kupikir aku punya banyak masalah, bukan hanya satu. "Sifat pemalumu," jawabnya. "Cewek enggak suka cowok pemalu." Dan aku memang pemalu saat itu; yang kumaksud adalah rasa malu sungguhan, tidak seperti sekarang, ketika rasa malu hampir selalu dipakai untuk lelucon. Jika seseorang tidak mengatakan hai, itu karena dia pemalu; jika seorang pria membunuh istrinya, itu karena rasa malu; jika ia mengibuli seluruh kota, jika mencalonkan diri, jika makan Nutella terakhir dari stoples tanpa meminta izin kepada siapa pun—malu. Tidak, maksudku sesuatu yang lain: perasaan tidak aman yang menggagap.

"Aku akan membantumu," kata Camilo. "Aku akan memberimu pelajaran, tapi jangan khawatir, kamu tidak perlu melakukan apa pun—pokoknya jangan pergi dari sampingku, enggak peduli apa yang kulakukan." Aku mengangguk, merasa sedikit lengar. Selama satu jam perjalanan bus, ia ceritakan beberapa lelucon, kebanyakan yang pernah kudengar, tapi kali ini ia menceritakannya dengan suara sangat lantang, teriak-teriak. Kupikir pelajarannya aku harus tertawa sama keras, tentu sangat sulit bagiku, tapi kucoba. Lalu, saat kami turun dari bus, ia bilang bukan itu pelajarannya.

Kami naik ke jembatan dan berhenti di tengah. Camilo merokok dalam diam, sementara aku menatap air sungai yang keruh dan bergegas, yang lebih tinggi dari biasanya. Aku fokus pada aliran sungai, sampai sangat berkonsentrasi dan aku merasa air itu diam dan kami di atas kapal yang bergerak, meski aku belum pernah naik kapal seumur hidupku. Cukup lama aku seperti itu, lima belas, mungkin dua puluh menit. "Kita sedang di kapal," kataku kepada Camilo. Aku kesulitan menjelaskannya; ia pun tak mengerti, tapi kemudian tiba-tiba ia melihatnya, juga, dan ia berteriak penuh ketakjuban. Kami lanjutkan memelototi arus dan ia mengulang-ulang, "Luar biasa, luar biasa, luar biasa."

Setelah itu, saat kami berjalan menuju Providencia, ia katakan kepadaku dengan tegas, "Aku selalu menyukaimu, aku masih menyukaimu, tapi sekarang aku juga menghormatimu." Sampai di satu simpang, mungkin antara Providencia dan Carlos Antunez, ia menatapku, membuat gerakan cepat dan hampir tidak kentara dengan kepalanya yang berarti sekarang, menjatuhkan dirinya ke tanah, mencengkeram perut, dan mulai tertawa terbahak-bahak boros sekali, terpingkal-pingkal keji sekali. Segerombolan orang segera merubung kami, dan aku sangat tidak ingin berada di situ, tapi aku tahu inilah pelajarannya. Ketika ia akhirnya berhenti tertawa, lima polisi di sana memintainya keterangan. Camilo memberiku anggukan isyarat senang—aku sudah bertahan di sampingnya, ikut tertawa dikit-dikit pula. Kulihat wajah para polisi itu, bengis dan datar, sedang Camilo mencerocoskan penjelasan tentang aku dan sifat maluku, dan yang ia lakukan barusan perlu untuk memberiku pelajaran agar aku, katanya kepada polisi, tumbuh dewasa. Ia telah mengganggu ketertiban umum, dan kami hidup di bawah kediktatoran, tapi Camilo berhasil meredakan kemarahan polisi-polisi itu, dan kami dibiarkan pergi setelah mengucapkan janji aneh agar tidak pernah tertawa di tempat umum lagi.

"Aku benar-benar lagi tinggi," kata Camilo kepadaku, atau mungkin pada dirinya sendiri, agak risau. Kami pergi ke sebuah toko untuk membeli album Talking Heads. Tempatnya tampak berbeda dari semua toko kaset yang pernah kukunjungi—tampak mewah dan eksklusif di mataku. Setelah si petugas menyerahkan True Story kepada kami, Camilo mencoba menerjemahkan lirik pembuka "Love for Sale" untukku, meski ia tidak menguasai bahasa Inggris. Kuambil album itu darinya, memeriksa sampul merah-putihnya, lalu kuberi isyarat cepat seperti isyaratnya untukku: sekarang. Ia baru saja punya waktu untuk memahaminya dengan tatapan panik sebelum aku kabur dengan album di tanganku, kami berlari, mengelak dari para pejalan kaki dengan kecepatan penuh, cukup lama, tertawa seperti orang gila.

Sore itu, saat kami tiba di rumah, ada pertandingan bola. Aku tidak ingat laga apa, tapi yang pasti Colo-Colo yang main, dan Camilo ikut menonton bersama kami. Ayah tanya kenapa. "Aku nggak punya bapak," kata Camilo. "Kamu bapakbaptisku, jadi kamu harus ajari aku sesuatu tentang sepak bola. Kalau nggak," katanya memperingatkan, sambil mengerling ke arahku, "Aku akan jadi peri."

Camilo jadi rutin menonton pertandingan bersama kami, tapi aku tak tahu apakah ayah senang atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang Camilo lontarkan sangat sepele dan seringkali keliru sehingga, tak perlu waktu lama, kami jemu.

*

4 Desember 1987, aku berbuat dosa besar. Los Prisioneros baru saja merilis La Cultura de la Basura, album ketiga mereka; sumpah mati aku ingin membelinya, tapi aku tak punya uang sepeser pun. Kupertimbangkan untuk mencuri lagi, tapi aku tak yakin bisa melakukannya—keberhasilan mencuri Talking Heads secara spontan menjadi inspirasi. Lalu aku punya ide yang lebih baik: karena hari itu ada acara amal tahunan, aku minta uang ke orangtuaku untuk membantu anak-anak cacat, dan aku pergi ke toko dan beli kaset.

Itu saat-saat yang mengerikan untukku. Kukurung diri dalam kamar mendengarkan album itu, dan pada mulanya setiap lagu terdengar, dengan satu dan lain cara, seolah-olah tentang tindakan jahatku. Kuputuskan untuk melakukan pengakuan dosa, tapi aku takut reaksi si pendeta. "Pengakuan dosa denganku saja," kata Camilo, setelah kukatakan kepadanya aku merasa berdosa. "Apa gunanya kamu mengocehkan urusanmu di hadapan pendeta? Lagi pula, kuberitahu, ya: masturbasi itu bukan dosa. Bahkan Yesus pun kupikir pernah coli beberapa kali sambil membayangkan Maria Magdalena."

Aku tertawa terbahak-bahak sampai aku merasa pening. Tak pernah sebelumnya aku mendengar bidah yang demikian. Di atas meja di ruang tamu ada gambar Yesus, dan sejak saat itu aku tak pernah bisa melihatnya tanpa berpikir seperti apa tampang Yesus habis ejakulasi. Ngomong-ngomong, aku tak pernah berpikir onani itu dosa. Setelah kuberitahu Camilo dosa apa yang telah kuperbuat, ia bilang kegiatan amal itu sudah berhasil dengan sponsor tunggal, aku lebih membutuhkan kaset itu, dan mungkin yang kulakukan sudah tepat.

"Aku enggak ngerti," kataku.

"Oke," katanya. "Kalau kamu masih merasa bersalah, berdoalah dengan satu amalan di mana kamu harus memukul-mukul dadamu."

*

Camilo masih bersikeras kami harus mengajarinya tentang sepakbola, dan kadang-kadang kami memang berlatih tendangan penalti di jalan. Tapi ayah dengan cepat akan muntab; ia bilang Camilo tidak berkonsentrasi, minatnya tidak serius. Namun, di satu akhir pekan, kami bertiga pergi ke Stadion Santa Laura, menonton pertandingan dobel. Pertama Universidad de Chile melawan Concepción. Camilo, supaya bikin aku dan ayah jengkel, mendukung Universidad—yang merupakan tim ayahnya—walaupun tentu saja ia bahkan tidak tahu nama-nama pemainnya. Ia suka cara semua orang di stadion berteriak dan mencemooh para pemain, tapi kaget melihat mereka memaki-maki wasit. Ia lalu membela wasit, dan meskipun orang-orang tidak menganggapnya sungguh-sunggu, lucu sekali mendengar Camilo, setiap kali wasit meniup peluit pelanggaran atau mengeluarkan kartu, berdiri dan berteriak, "Bagus sekali, Sit! Keputusan yang sangat bagus!"

Camilo terus bersorak untuk wasit selama pertandingan berikutnya, antara Colo-Colo dan Naval, seingatku. Aku bergabung dengannya sebentar, meskipun menonton Colo-Colo bagiku adalah perkara yang sangat serius. Aku dibesarkan mengagumi Chino Hisis, Pillo Vera, Carlos Caszely, Horacio Simaldone, dan tentu saja Roberto Rojas—El Condor. Aku juga benci beberapa pemain: Cristián Saavedra (aku tidak tahu kenapa), dan Mario Osbén, tetapi hanya selama periode ketika pelatih secara misterius menjadikannya sebagai starter alih-alih Rojas. Itu membuatku marah. Salah satu kebahagiaan terbesar masa kecilku adalah turun ke pagar untuk meneriaki pelatih, dan aku benar-benar memakinya. Di rumah, dilarang keras bicara kasar, tapi di stadion aku punya kebebasan.

Tak satu pun dari para pemain itu berada dalam tim ketika aku di stadion bersama Camilo, tapi tak pelak lagi Condor Rojas adalah pemain yang paling kurindukan. Semua orang Chili mengagumi Rojas, tapi bagiku, karena ia kiper, cara lain mengagumi ayahku. Terlebih, aku paham sekali posisi ini, dan tanpa keraguan, menurutku tugas kiperlah yang paling berat. Kadang-kadang aku juga jadi kiper, mencoba meniru Condor Rojas, atau mungkin ayahku (dalam semua hal kecuali teriak-teriak). Namun, ketika bergabung dengan Liga Pemuda Cobresal, di Maipú, bermain di lapangan yang sama denga Iván Zamorano ketika memulai kariernya, aku menjajal posisi gelandang, bukan kiper. Aku khawatir, barangkali, kalau-kalau aku tidak cukup bagus.

*

Mengapa Camilo menghabiskan begitu banyak waktu bersama kami? Karena kami mencintainya, tentu. Dan ia tidak suka berada di rumahnya sendiri. Ia bertengkar dengan ibunya perkara keyakinan beragama dan situasi politik. Sebelum referendum 1988, Camilo ikut semua demonstrasi mendukung "Tidak", dan itu menyebabkan pertengkaran hebat antara keduanya. Camilo ingin "Tidak" menang bukan hanya karena ia benci Pinochet, tapi juga karena dipikirnya dengan begitu ayahnya bisa kembali ke Chili. Tapi ayah Camilo tak ingin kembali, atau setidaknya itulah yang Bibi Juli selalu katakan—"Ayahmu sudah punya keluarga lain sekarang. Ia juga punya negara lain. Ia bahkan tidak ingat kamu." Tapi ayahnya masih sering berkirim surat untuknya, mengiriminya uang, dan sekali waktu menelepon.

Bibi Juli memang keras. Meski begitu, ia memperlakukan kami dengan sangat baik suatu kali kami mampir ke rumahnya. Dia menghidangkan kue dan susu pisang untuk kami yang sedang bermain Montezuma's Revenge bersama saudara tiri Camilo. Aneh rasanya melihat Camilo di sana. Ia tampak tak nyaman. Kulihat-lihat kamarnya, seolah-olah ia tidak tinggal di sana. Ia pernah menghadiahi aku dan dua saudariku poster-poster yang bisa digantung di dinding kamar kami, tapi tak ada satu poster pun di kamarnya sendiri: Aku terkesan melihat tembok putih itu, kosong melompong, tanpa paku untuk menggantung foto.

Oh, kuliah apa Camilo? Administrasi atau Manajemen Sesuatu, di Universidad Tecnológica Metropolitana, yang kemudian berganti nama jadi Instituto Profesional de Santiago. Tapi ia tidak suka kuliah. Sekali waktu, ia mengajariku matematika, tapi hasilnya memble, dan, lagi pula, aku tidak benar-benar memerlukannya. Aku pun tak tahu apakah ia banyak baca, meski kurasa ia suka membaca. Kadang aku berpikir, dari sudut pandang kekinian, bahwa Camilo kurang dewasa. Tapi tidak. Ia dewasa. Atau ia juga punya sisi lain, sisi yang intuitif, murah hati, cerdik.

Ia di sana bersama kami, di depan TV, ketika Condor Rojas pura-pura cedera di Brasil dan timnas Chili meninggalkan Stadion Maracana. Aku dan ayah tak percaya apa yang kami lihat, dan Camilo pun kelimpungan. "Brazil bangsat!" teriakku, menunggu apakah aku akan dimarahi, tapi tak ada yang menegurku. Ayah tenggelam dalam keheningan amarahnya. Camilo segera berangkat ke pusat kota, menjadi bagian dari kerumunan yang protes di depan Kedutaan Besar Brasil. Aku ingin pergi bersamanya, tapi orang tuaku tak mengizinkan, dan aku harus menelan kemarahanku sendirian.

Suatu malam, sementara topik itu masih diperdebatkan dan Condor Rojas menyatakan tidak bersalah dalam setiap wawancaranya, Camilo datang untuk makan bersama kami dan berkata bahwa ia tak lagi percaya Condor tidak bersalah. Saat itu rumornya sudah beredar, tapi aku dan ayah menganggap itu fitnah belaka. Ayah memeloti Camilo dengan pandangan menghina, hampir dengan kebencian. "Kamu nggak punya hak buat berpendapat. Kamu nggak tahu apa-apa soal sepak bola," kata ayah. "Apa kamu pikir Condor cukup bego hingga melakukan sesuatu seperti itu?" Ketika Rojas akhirnya mengaku, tak lama kemudian, kami harus menerimanya. Kami meminta maaf kepada Camilo, tapi ia bilang itu tidak terlalu penting.

Bahkan setelah Condor mengakui kesalahannya, berbulan-bulan aku masih menolak percaya. Walhasil kami harus berhenti mengagumi Condor Rojas, dan aku pun berhenti menonton pertandingan ayah. Tak lama kemudian, tangan kanan ayah patah untuk kedua kalinya, dan dokter berkata ia tidak boleh main sepak bola lagi.

*

Pertengahan 1990, sesuatu yang luar biasa terjadi: setelah satu dekade meminta saluran telepon, akhirnya kami dapat. Kami diberi nomor 5573317. Pagi ketika petugas datang untuk memasang, di rumah hanya ada aku dan ibu. Hal pertama yang ibu lakukan adalah menelepon salah satu temannya, dan kemudian ia menyuruhku menelepon juga, jadi aku telepon Camilo. Itu periode ketika ia, tanpa penjelasan, berhenti mengunjungi kami. Ia terdengar gembira, dan aku memintanya datang. Ia muncul beberapa hari kemudian.

Umurku empat belas waktu itu, dan hari itu ia bilang ingin mengajariku cara merayu perempuan. Aku pernah mencium beberapa gadis, tapi hubunganku dengan mereka tidak mulus. Camilo bercerita ia baru bertemu seorang gadis bernama Lorena, dan mereka kencan dan tidur bersama. Ia menjelaskan bagaimana seharusnya memperlakukan seorang wanita di tempat tidur ("Kamu harus perlahan-lahan membuka bajunya—Jangan buru-buru"), ia lalu menawarkan untuk menelepon Lorena dan aku mendengarkannya dari kamar ibu. "Dengan cara ini kamu bisa belajar bagaimana menggoda wanita," katanya. Ia tidak bermaksud pamer—betul-betul ingin mengajariku.

"Halo, Lorena, ini Camilo," katanya, dengan suara yang dalam.

"Oh, bagaimana kabarmu?" Suaranya manis, manis dan agak serak.

"Kabarku baik, tapi aku butuh ketemu kamu."

Lorena diam selama lima detik, kemudian mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah aku lupakan. "Nah, kalau sudah jadi kebutuhan, sebaiknya kita putus," katanya, menutup telepon.

Aku ke dapur, menjerang air, dan membuat secangkir teh untuk Camilo. Kupikir itu pertama kalinya aku membuatkan teh untuk seseorang. Kutaruh banyak gula di dalamnya, yang kupahami sebagai sesuatu yang harus dilakukan ketika membuatkan teh untuk orang yang sedang sedih.

"Terima kasih," kata Camilo, dengan sikap pasrah. "Tapi itu tadi bukan masalah. Aku senang. Musim panas nanti sesuatu yang sangat penting akan terjadi."

"Apa itu?"

"Yah, bukan lagi musim panas untukku. Tapi musim dingin."

Itu petunjuk yang lengkap, tapi aku masih tak mengerti. Bodoh sekali.

"Aku akan ke Prancis bertemu ayahku," katanya, kegembiraan jelas tergambar di wajahnya.

*

Sekarang aku melompat bertahun-tahun ke depan; lebih tepatnya, dua puluh dua. Oktober 2012. Aku berada di Amsterdam, pada pertemuan orang-orang Chili, kebanyakan eksil, sebagian anak-anak dari eksil, sebagian lainnya mahasiswa. Dan ada Pak Camilo, Camilo Senior. Seseorang memperkenalkan kami dan ketika ia mendengar nama belakangku ada kilat ketertarikan di matanya. "Kau tampak seperti ayahmu," katanya.

"Dan Anda terlihat seperti Camilo," jawabku. Ia menanyaiku beberapa pertanyaan samar. Kami berbincang tentang demonstrasi, tentang pemerintah yang secara memalukan menolak hak pilih orang Chili yang berada di luar negeri. Kami berbincang tentang Pinera, dan tiba-tiba saja kami menjadi teman sebangsa yang mengeluhkan inkompetensi presiden kami. Dan kemudian: "Bagaimana Hernán?" tanyanya.

"Baik," jawabku, memikirkan sudah lama aku tidak bicara dengan ayah. Aku merasa sedikit terganggu, aku tak tahu mengapa. Aku menanggapinya dengan dingin. Lalu aku menyadari: Camilo sangat menderita karena ayahnya. Aku merasa, dengan satu dan lain cara yang absurd dan gelap, bicara dengan Pak Camilo adalah pengkhianatan terhadap temanku itu, kakakku. Di saat yang sama, aku juga ingin bicara dengan orang ini, untuk memahami siapa ia sebenarnya. Aku mengusulkan agar kami bertemu keesokan harinya.

Kami sepakat bertemu di sebuah restoran Meksiko di Keizersgracht. Bisa ditempuh dengan jalan kaki dari hotelku. Aku tiba hampir dua jam lebih awal agar bisa menonton pertandingan Barcelona. Alexis duduk di bangku cadangan. Selama beberapa dekade, sepakbola telah menjadi semacam olahraga perorangan bagi kami orang Chili. Setelah apa yang terjadi dengan Condor Rojas, bukan hanya absen di Italia tahun 1990, kami juga dilarang ikut serta dalam kualifikasi Amerika Selatan untuk Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Tak ada yang bisa kami lakukan, selama bertahun-tahun, selain fokus pada kompetisi lokal dan pada kejayaan dan kegagalan individu beberapa saudara sebangsa kami yang bermain di luar Chili. Kami mendukung Real Madrid ketika Zamorano bermain di sana, dan sekarang Barcelona, karena Alexis, selama ia berada di sana. Kami terbiasa menonton dengan cara ini: apa pentingnya gol yang dicetak David Villa dan Messi untukku? Satu-satunya yang kupedulikan adalah Alexis main, dan, bahkan jika ia tidak bersinar, setidaknya tidak melakukan hal-hal bodoh.

*

Pak Camilo juga tiba lebih awal. Kupikir, aku akan menonton pertandingan bersama ayah Camilo.

Yang kutahu tentang Pak Camilo, tentang pengasingannya, hanya yang anaknya ceritakan kepadaku: ia dipenjara pada 1974, dan ia cukup beruntung, bisa keluar dari Chili pada 1975. Ia pergi ke Paris, bertemu dengan seorang wanita Argentina yang kemudian melahirnya dua anaknya. Ia memberi tahuku ia sudah tinggal di Belanda selama lima belas tahun, pertama di Utrecht, lalu di Rotterdam, dan sekarang di sebuah kota kecil dekat Amsterdam. Tak mau buang-buang waktu, kupercepat penyelidikan. Aku bertanya kepadanya mengapa Camilo begitu berubah ketika kembali ke Chili.

"Aku tak tahu mengapa," katanya. "Dia datang ke Paris untuk bertemu denganku. Dia ingin kami pulang ke Chili bersama-sama. Dia tak tertarik pindah ke sini, meski aku memintanya. Dia bilang dia orang Chili. Aku mengusulkan agar dia kuliah. Kubicarakan rencana kami untuk menetap di Belanda. Dia bilang dia tidak suka kuliah, tidak di Santiago dan tidak di Eropa. Situasinya semakin memanas. Dia mengucapkan hal-hal mengerikan di depan mukaku. Aku pun mengucapkan hal-hal mengerikan di depan mukanya. Dan selanjutnya menjadi kompetisi, kompetisi siapa yang bisa mengucapkan hal-hal yang paling mengerikan. Aku akhirnya merasa dia yang menang. Dan dia akhirnya merasa aku yang menang. Bertahun-tahun kami terus berhubungan, aku selalu memikirkannya, mengiriminya uang—tidak banyak, tapi aku mengiriminya. Kelak, pertama kalinya aku mudik ke Chili, kami bertemu lagi, beberapa kali makan siang bersama, tapi kami selalu ribut."

"Itu tahun '92," kataku.

"Ya," jawabnya.

Lima belas menit memasuki babak kedua, Alexis masuk; ia offside beberapa kali, tapi berperan untuk gol Xavi, 3-0. Kemudian Fabregas mencetak gol, lalu Messi lagi. Alexis menyia-nyiakan peluang emas di menit akhir.

"Apa yang kamu pikirkan tentang Alexis?" Pak Camilo bertanya.

"Dia tidak lebih baik dari Messi," kataku, Pak Camilo tersenyum. Kutambahkan bahwa Alexis tidak pernah mencetak banyak gol—di timnas Chili juga dia buang-buang peluang melulu—tapi ia pemain sayap yang istimewa. Tiba-tiba datang lagi pikiran itu: mengobrolkan sepak bola dengan ayah Camilo, aku merasa gemetaran. Perasaan yang sangat aneh. Aku bicara tentang Colo-Colo 2006, tentang Claudio Borghi, Mati Fernandez, Chupete Suazo, Kalule, Arturo Sanhueza. Aku bicara tentang laga final yang melawan Pachuca, di Stadion Nasional. Aku merasa canggung berbicara dengan cara seperti ini. Naif.

Ia mendesakku memakai "kamu" yang informal saja dengannya. Kukatakan tidak. Ia bertanya apakah ayah dan Camilo memakai yang informal satu sama lain. Kujawab iya. "Cobalah denganku, kalau begitu."

Aku lebih suka tidak. Kucoba menjawab sesopan mungkin, tapi yang keluar dari mulutku hanya gumaman lemah, "Tidak."

Aku bertanya apa yang ia dan ayah tengkarkan. Ayah belum pernah memberi tahu Camilo atau aku ketika kami menanyainya: Ayah selalu mengubah topik obrolan. Dan tidak ada orang lain yang tahu. Aku selalu berasumsi itu pasti sesuatu yang sangat serius.

"Kejadiannya menjelang akhir musim," kenang Pak Camilo. "Kami semua kelelahan, dua-nol: Aku bek tengah, tinggal beberapa menit tersisa, dan ayahmu berteriak seperti orang gila: 'Oper, oper balik, oper, Camilo!' Kami sering cekcok di beberapa pertandingan. Dia tidak pernah membiarkanku membuat keputusan sendiri. 'Oper, oper balik!' Zaman itu, kiper masih boleh menangkap bola dengan tangannya kalau kamu oper ke belakang."

"Aku tahu," kataku. "Aku tak semuda itu."

"Kamu masih sangat muda," katanya.

Kami pesan bir lagi.

Pak Camilo melanjutkan, "Dia terus berteriak berulang-ulang. 'Oper balik, Camilo, oper balik, ayolah!' Dan aku muak. Karena kesal sekali aku menyarangkan bola ke sudut gawang dan mencetak gol bunuh diri—'Makan tuh bola, bangsat!' kataku. Beberapa orang tertawa, beberapa lainnya meneriakiku, ayahmu hanya memandangiku penuh kebencian. Kemudian tim lawan mencetak gol, seri. Kalau saja aku tak mencetak gol bunuh diri itu, kami sudah memenangkan kejuaraan."

Saat itu teman Belandaku Luc datang; ia memberiku beberapa buku. Kukenalkan dengan Camilo. Ia duduk-duduk sebentar bersama kami, dan dengan bertanya kepada Camilo apakah ia seorang eksil. "Tidak lagi," jawab Camilo. "Atau iya. Aku tak tahu lagi." Luc mengajakku pergi, tapi aku merasa aku harus tinggal. Aku bilang jumpa lagi nanti.

Pak Camilo tak pernah bercerita kepada anaknya bahwa ia disiksa, meski ia ditahan selama beberapa bulan. "Mereka menyiksaku habis-habisan," sekarang ia memberi tahuku. "Tapi aku tak mau bicara tentang itu. Aku masih hidup. Aku harus pergi, memulai segalanya dari awal lagi." Kami sama-sama terdiam. Aku memikirkan toko kaset, lagu Talking Heads; mungkin aku sedikit terluka.

I was born in a house with the television always on
Guess I grew up too fast
And I forgot my name.

*

Kami berjalan di Prinsengracht. Cuaca dingin. Tanpa maksud jelas, aku mulai menghitung sepeda yang melewati jalan itu. Lima puluh, enam puluh, seratus. Keheningan antara kami tampaknya tak mau minggat. Kurasa sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal. Dan, benar, saat itu pula ia mengatakan, "Yah, aku akan pergi sekarang."

"Katakan kepada Hernán aku minta maaf," imbuhnya. Kuyakinkan bahwa ayah telah memaafkannya bertahun-tahun yang lalu, dan itu tak penting. Kami meminta seorang anak mengambil foto kami dengan ponselku. Sementara kami berpose, aku memikirkan besok akan menelepon ayah, dan kami akan berbincang panjang tentang Pak Camilo, dan kami juga akan mengenang, seperti yang kami lakukan kadang-kadang, malam mengerikan di awal '94, saat Bibi Juli menelepon dan memberi tahu kami Camilo ditabrak mobil, dan pekan celaka ketika ia hampir sembuh tapi ternyata tidak selamat.

Aku tak tahu mengapa aku bertanya kepada Pak Camilo bagaimana ia mengetahui kematian anaknya. "Aku baru tahu delapan hari kemudian," katanya. "Juli tahu bagaimana menghubungiku, tapi dia tidak melakukannya." Kami masih berdiri, menatap tanah, di pojokan sebuah toko lampu. Aku pernah melihat ini beberapa kali di Amsterdam: jendela toko dipenuhi lampu yang semuanya menyala di malam hari. Aku baru akan mengatakan ini, untuk ganti topik. Lalu ia mengulangi, "Tolong katakan kepada Hernán aku minta maaf atas gol itu."

"Akan kusampaikan," kataku. Kami mengucapkan salam perpisahan, ia memelukku dan mulai menangis. Kupikir sebuah cerita tidak seharusnya berakhir seperti ini, dengan Camilo Senior menangisi anaknya yang sudah mati, anak yang praktis asing baginya. Tapi beginilah akhirnya.